hukum zakat disalurkan langsung tanpa melalui panitia zakat?
Buya jika pada suatu kampung ada pembagian zakat yang kurang pas. Mungkin fi sabilillah di tasarufkan ke guru ngaji yang notabenenya orang kaya...
Lalu ada orang yang ndak mantep menyerahkan kepada panita. Karena tau hal tersebut
Lalu orang tersebut berniat zakat sendiri.
dengan menyerahkan langsung kepada faqir miskin.
yang saya tanyakan buya.
1. Apakah boleh hal yang seperti itu?
2. Kalau boleh... misalkan faqir miskin tersebut sudah mendapatkan dari panitia. Bolehkah di kasih lagi ? (Dobel 2 bagian gitu)
Abuya: Boleh ditasarufkan sendiri...dan seharusnya begitu jika mampu melakukan sendiri karena panitia itu kepanjangan tangan dari pemilik (muzakki)..
2. boleh mendapat dua kali jika masih dianggap fakir atau miskin setelah mendapatkan zakat .
1. Menurut qoaul "boleh".. Tidak ada kewajiban zakat melalui amil bisa langsung kita tasarufkan kpd penerima zakat.
وفي زكاة الفطر وجهان:
( الأول ) قال في القديم : (يجب دفعها إلى الإمام أو النائب عنه، فإن فرقها بنفسه أعاد)
والثاني ) قال في الجديد : ( يجوز لرب المال أن يفرقها بنفسه) وهو الصحيح، لأنها زكاة ، فيجوز لرب المال أي يفرقها بنفسه، كالأموال الباطنة
Dalam redaksi diatas, beliau menjelaskan bahwa cara penyaluran zakat fitrah kepada yang tidak mampu atau kepada kelompok penerima lainnya menurut pandangan Imam Syafi’i dapat dilihat dalam kedua pendapatnya.
Pertama, dalam pendapat lamanya (qaul qadim: pendapat beliau waktu di baghdad Iraq) zakat fitrah harus disalurkan kepada panitia atau lembaga yang resmi menangani pengumpulan zakat tidak boleh disalurkan langsung kepada para penerima. Jika terpaksa dilakukan maka harus diambil lagi dan diserahkan kepada panitia atau lembaga pengumpul zakat.
Kedua, beliau dalam pendapat barunya (qaul jadid : pendapat beliau waktu dimesir) mengatakan bahwa zakat fitrah boleh-boleh saja disalurkan secara langsung kepada para penerima zakat. Ia tidak harus disalurkan melalui lembaga dan panitia pengumpul zakat. Karena menurut beliau zakat fitrah ini juga disamakan dengan harta-harta yang tergolong harta batin ( tidak nampak sebagaimana hewan, buah-buanan dan lain sebagainya). Maka ia diberikan kebebbasan untuk menyalurkannya. _i'anah at-tholibin II/220_
Comments
Post a Comment